Kepemimpinan Dalam Human
Sosial Organitation
Dosen
Pengajar :
Susilawati,
M. Si, Ph. D
Disusun
Oleh :
Rendra
Ristiana
Soraya
Medina
Aris
Tristanto
PROGRAM PASCA SARJANA SPECIALIS 1
SEKOLAH
TINGGI KESEJAHTERAAN SOSIAL
BANDUNG
2016
A.
Kepemimpinan
1. Pengertian Kepemimpinan
Kepemimpinan secara harfian berasal dari
kata pimpin. Kata pimpin mengandung pengertian mengarahkan, membina atau
mengatur, menuntun dan juga menunjukkan ataupun mempengaruhi. Pemimpin
mempunyai tanggung jawab baik secara fisik maupun spiritual terhadap
keberhasilan aktivitas kerja dari yang dipimpin, sehingga menjadi pemimpin itu
tidak mudah dan tidak akan setiap orang mempunyai kesamaan di dalam menjalankan
ke-pemimpinannya.
Menurut Wahjosumidjo (1984) kepemimpinan
di terjemahkan kedalam istilah sifat- sifat, perilaku pribadi, pengaruh
terhadap orang lain, pola- pola, interaksi, hubungan kerja sama antarperan,
kedudukan dari satu jabatan administratif, dan persuasif, dan persepsi dari
lain- lain tentang legitimasi pengaruh. Miftah Thoha (2010) kepemimpinan adalah
kegiatan untuk memengaruhi perilaku orang lain, atau seni memengaruhi perilaku
manusia baik perorangan maupun kelompok.
Kepemimpinan merupakan salah satu faktor
yang sangat penting dalam suatu organisai karena sebagian besar keberhasilan
dan kegagalan suatu
organisasi ditentukan
oleh kepemimpinan dalam organisasi tersebut. Menurut C. Turney (1992)
mendefinisikan kepemimpinan sebagai suatu group proses yang dilakukan oleh
seseorang dalam mengelola dan menginspirasikan sejumlah pekerjaan untuk
mencapai tujuan organisasi melalui aplikasi teknik- teknik manajemen.
George R. Terry (Miftah
Thoha, 2010) mengartikan bahwa Kepemimpinan adalah aktivitas untuk mempengaruhi
orang-orang supaya diarahkan mencapai tujuan organisasi. Kepemimpinan meliputi
proses mempengaruhi dalam menentukan tujuan organisasi, memotivasi perilaku
pengikut untuk mencapai tujuan, mempengaruhi untuk memperbaiki kelompok dan
budayanya.
A. Dale Timpe (2000)
mengartikan Kepemimpinan adalah proses pengaruh sosial di dalam mana manajer
mencari keikutsertaan sukarela dari bawahan dalam usaha mencapai tujuan
organisasi. Dengan kepemimpinan yang dilakukan seorang pemimpin juga
menggambarkan arah dan tujuan yang akan dicapai dari sebuah organisasi.
Sehingga dapat dikatakan kepemimpinan sangat berpengaruh bagi nama besar
organisasi.
Menurut Sudarwan Danim
(2004) kepemimpinan adalah setiap perbuatan yang dilakukan oleh individu atau
kelompok untuk mengkoordinasi dan memberi arah kepada individu atau kelompok
yang tergabung di dalam wadah tertentu untuk mencapai tujuan yang telah
ditetapkan sebelumnya.
Martinis Yamin dan Maisah (2010)
kepemimpinan adalah suatu
proses
mempengaruhi yang dilakukan oleh
seseorang dalam mengelola
anggota
kelompoknya untuk mencapai tujuan organisasi. Kepemimpinan
merupakan bentuk
strategi atau teori memimpin yang tentunya dilakukan
oleh orang yang biasa
kita sebut sebagai pemimpin. Pemimpin adalah
seseorang
dengan wewenang kepemimpinannya mengarahkan bawahannya untuk mengerjakan
sebagian dari pekerjaannya dalam
mencapai tujuan.
Pemimpin adalah
mereka yang menggunakan
wewenang formal
untuk
mengorganisasikan, mengarahkan, mengontrol para bawahan yang
bertanggung
jawab, supaya semua
bagian pekerjaan dikoordinasi
demi
mencapai tujuan
perusahaan. Pemimpin pertama-tama harus seorang yang
mampu menumbuhkan
dan mengembangkan segala yang terbaik dalam
diri para
bawahannya. Secara sederhana
pemimpin yang baik
adalah
seorang yang
membantu mengembangkan orang lain, sehingga akhirnya
mereka tidak
lagi memerlukan pemimpinnya itu.
Menurut Kartini Kartono (2003)
mengemukakan kepemimpinan
sebagai berikut:
Kepemimpinan itu sifatnya spesifik, khas, diperlukan
bagi situasi khusus. Sebab dalam satu kelompok yang melakukan
aktivitas-aktivitas tertentu, dan punya tujuan serta peralatan khusus, pemimpin
kelompok dengan ciri- ciri karakteristiknya itu merupakan fungsi dari situasi
khusus tadi. Jelasnya sifat-sifat utama dari pemimpin dan kepemimpinannya harus
sesuai dan bisa diterima oleh kelompoknya, juga bersangkutan, serta cocok-pas
dengan situasi dan zamannya.
Dari pendapat di atas dapat disimpulkan
kepemimpinan merupakan cara seorang pemimpin dalam mempengaruhi bawahan dengan
karakteristik tententu sehingga dapat mencapai tujuan yang diinginkan. Faktor
keberhasilan seorang pemimpin salah satunya tergantung dengan teknik
kepemimpinan yang dilakukan dalam menciptakan situasi sehingga menyebabkan
orang yang dipimpinnya timbul kesadarannya untuk melaksanakan apa yang
dikehendaki. Dengan kata lain, efektif atau tidaknya seorang pemimpin
tergantung dari bagaimana kemampuannya dalam mengelola dan menerapkan pola
kepemimpinannya sesuai dengan situasi dan kondisi organisasi tersebut.
2. Perbedaan Kepemimpinan dengan Menejemen
Pada hakekatnya kepemimpinan mempunyai
pengertian yang agak luas dibandingkan dengan menejemen. Menejemen merupakan
jenis pemikiran yang khusus dari kepemimpinan di dalam usahanya untuk mencapai
tujuan organisasi. Sedangkan kepemimpinan bisa saja karena berusaha mencapai
tujuan organisasi atau kelompok, dan bisa saja sama atau selaras atau tidak
selaras dengan tujuan organisasi.
Menurut Miftah Thoha (2010) menejemen
adalah sebuah proses pencapaian organisasi lewat usaha orang-orang lain. Dalam
menejemen terdapat suatu aturan dan tata krama tertentu, sehingga kepemimpinan
dalam menejemen akan diatur sesuai ketentuan yang berlaku. Seseorang yang
mengatur menejemen biasa disebut menejer. Menejer menduduki
jabatan sruktural melalui seleksi dan periode masa
jabatan yang sudah diatur dalam organisasi.
Menurut Sudarwan Danim (2004)
kepemimpinan adalah setiap perbuatan yang dilakukan oleh individu atau kelompok
untuk mengkoordinasi dan memberi arah kepada individu atau kelompok yang
tergabung di dalam wadah tertentu untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan
sebelumnya. Dalam kepemimpinan tidak dibatasi oleh aturan-aturan dan tata krama
dalam suatu organisasi. Kepemimpinan bisa terjadi dimana saja, asalkan orang
tersebut dapat menunjukkan kemampuannya dalam mempengaruhi orang lain atau kelompok
tertentu untuk mencapai tujuan tertentu. Seseorang yang bisa mempengaruhi orang
lain untuk mencapai tujuan tertentu bisa di sebut dengan pemimpin.
Dari pendapat di atas dapat disimpulkan
seorang menejer dapat saja berperilaku sebagai seorang pemimpin, asalkan dia
mampu mempengaruhi orang lain untuk mencapai tujuan tertentu. Tetapi seorang
pemimpin belum tentu harus menjabat sebagai menejer jika ingin mempengaruhi
orang lain. Jadi seorang pemimpin belum tentu menejer, tetapi seorang menejer
bisa saja berperilaku sebagai pemimpin.
3. Gaya Kepemimpinan
Menurut Miftah Thoha (2010) gaya
kepemimpinan merupakan norma perilaku yang digunakan oleh seseorang pada saat
orang tersebut mencoba mempengaruhi perilaku orang lain seperti yang ia lihat.
Macam-macam gaya kepemimpinan antara lain :
a. Gaya
Kepemimpinan Otokratik
Menurut Sudarwan Danim (2004) kata
otokratik diartikan sebagai tindakan menurut kemauan sendiri, setiap produk
pemikiran dipandang benar, keras kepala, atau rasa aku yang keberterimaannya
pada khalayak bersifat dipaksakan. Kepemimpinan otokratik disebut juga
kepemimpinan otoriter.
Mifta Thoha (2010) mengartikan
kepemimpinan otokratis sebagai gaya yang didasarkan atas kekuatan posisi dan
penggunaan otoritas. Jadi kepemimpinan otokratik adalah kepemimpinan yang
dilakukan oleh seorang pemimpin dengan sikapnya yang menang sendiri, tertutup
terhadap saran dari orang lain dan memiliki idealisme tinggi.
Menurut Sudarwan Danim (2004) pemimpin
otokratik memiliki ciri-ciri antara lain:
1) Beban
kerja organisasi pada umumnya ditanggung oleh pemimpin.
2) Bawahan,
oleh pemimpin hanya dianggap sebagai pelaksana dan mereka tidak boleh
memberikan ide-ide baru.
3) Bekerja
dengan disiplin tinggi, belajar keras, dan tidak kenal lelah.
4) Menentukan
kebijakan sendiri dan kalaupun bermusyawarah sifatnya hanya penawar saja.
5) Memiliki
kepercayaan yang rendah terhadap bawahan dan kalaupun kepercayaan diberikan,
didalam dirinya penuh ketidak percayaan.
6)
Komunikasi
dilakukan secara tertutup dan satu arah.
7)
Korektif
dan minta penyelesaian tugas pada waktu sekarang.
b. Gaya Kepemimpinan Demokratis
Menurut Sudarwan Danim (2004)
kepemimpinan demokratis bertolak dari asumsi bahwa hanya dengan kekuatan
kelompok, tujuan-tujuan yang bermutu tercapai. Mifta Thoha (2010) mengatakan
gaya kepemimpinan demokratis dikaitkan dengan kekuatan personal dan keikut
sertaan para pengikut dalam proses pemecahan masalah dan pengambilan keputusan.
Menurut Sudarwan Danim (2004) pemimpin
demokratis memiliki ciri-ciri antara lain:
1) Beban
kerja organisasi menjadi tanggung jawab bersama personalia organisasi itu.
2) Bawahan,
oleh pemimpin dianggap sebagai komponen pelaksana secara integral harus diberi
tugas dan tanggung jawab.
3) Disiplin
akan tetapi tidak kaku dan memecahkan masalah secara bersama.
4) Kepercayaan
tinggi terhadap bawahan dengan tidak melepaskan tanggung jawab pengawasan
5)
Komunikasi
dengan bawahan bersifat terbuka dan dua arah.
c. Gaya Kepemimpinan Permisif
Menurut Sudarwan
Danim (2004) pemimpin permisif
merupakan pemimpin yang tidak mempunyai pendirian
yang kuat, sikapnya serba boleh. Pemimpin memberikan kebebasan kepada
bawahannya, sehingga bawahan tidak mempunyai pegangan yang kuat terhadap suatu
permasalahan. Pemimpin yang permisif cenderung tidak konsisten terhadap apa
yang dilakukan.
Menurut Sudarwan Danim (2004) pemimpin
permisif memiliki ciri-ciri antara lain:
1) Tidak
ada pegangan yang kuat dan kepercayaan rendah pada diri sendiri.
2)
Mengiyakan
semua saran.
3)
Lambat
dalam membuat keputusan.
4)
Banyak
“mengambil muka” kepada bawahan.
5)
Ramah
dan tidak menyakiti bawahan.
Dari pendapat di atas dapat disimpulkan
bahwa gaya kepemimpinan merupakan suatu pola perilaku yang konsisten yang
ditunjukkan pemimpin dan diketahui oleh pihak lain ketika pemimpin berusaha
mempengaruhi orang lain. Gaya kepemimpinan antara lain gaya kepemimpinan
otokratik, gaya kepemimpinan demokratis, dan gaya kepemimpinan permisif. Jika
dikaitkan dengan Kepala Sekolah, maka Kepala Sekolah dapat menggunakan gaya
kepemimpinan tersebut dalam mempengaruhi guru maupun karyawan yang ada di
sekolah yang dipimpinnya. Namun gaya kepemimpinan yang tepat untuk memotivasi
kepala sekolah adalah gaya kepemimpinan demokratis. Hal ini sesuai pendapat
Mifta Thoha (2010) yang mengatakan gaya kepemimpinan demokratis dikaitkan
dengan kekuatan personal dan keikut sertaan para pengikut dalam proses
pemecahan masalah dan pengambilan keputusan. Dengan gaya demokrasi Kepala
sekolah secara tidak langsung memotivasi guru agar berpartisipasi dan
bertanggungjawab dalam kegiatan sekolah.
PENGAMBILAN
KEPUTUSAN
A.
Definisi Pengambilan Keputusan.
Pengambilan
keputusan dapat dianggap sebagai suatu hasil atau keluaran dari proses mental
atau kognitif yang membawa pada pemilihan suatu jalur tindakan di antara
beberapa alternatif yang tersedia. Setiap proses pengambilan keputusan selalu
menghasilkan satu pilihan final. Keluarannya bisa berupa suatu tindakan (aksi)
atau suatu opini terhadap pilihan. Ada beberapa pengertian atau definisi
Pengambilan Keputusan Menurut Para Ahli :
Menurut George R. Terry
Pengambilan
keputusan adalah pemilihan alternatif perilaku (kelakuan) tertentu dari dua atau
lebih alternatif yang ada.
Menurut
Sondang P. Siagian
Pengambilan
keputusan adalah suatu pendekatan yang sistematis terhadap hakikat alternatif
yang dihadapi dan mengambil tindakan yang menurut perhitungan merupakan
tindakan yang paling cepat.
Menurut
James A. F. Stoner
Pengambilan
keputusan adalah proses yang digunakan untuk memilih suatu tindakan sebagai
cara pemecahan masalah.
Dari
definisi diatas dapat disimpulkan bahwa pengambilan keputusan itu adalah suatu
cara yang digunakan untuk memberikan suatu pendapat yang dapat menyelesaikan
suatu masalah dengan cara / teknik tertentu agar dapat lebih diterima oleh
semua pihak.
B.
Dasar Pengambilan Keputusan.
Menurut
George R.Terry dan Brinckloe disebutkan dasar-dasar pendekatan dari pengambilan
keputusan yang dapat digunakan yaitu :
1. Intuisi
: Pengambilan keputusan yang didasarkan atas intuisi atau perasaan memiliki
sifat subjektif sehingga mudah terkena pengaruh. Pengambilan keputusan
berdasarkan intuisi ini mengandung beberapa keuntungan dan kelemahan.
2. Pengalaman
: Pengambilan keputusan berdasarkan pengalaman memiliki manfaat bagi
pengetahuan praktis, karena pengalaman seseorang dapat memperkirakan keadaan
sesuatu, dapat diperhitungkan untung ruginya terhadap keputusan yang akan
dihasilkan. Orang yang memiliki banyak pengalaman tentu akan lebih matang dalam
membuat keputusan akan tetapi, peristiwa yang lampau tidak sama dengan
peristiwa yang terjadi kini.
3. Fakta
: Pengambilan keputusan berdasarkan fakta dapat memberikan keputusan yang
sehat, solid dan baik. Dengan fakta, maka tingkat kepercayaan terhadap
pengambilan keputusan dapat lebih tinggi, sehingga orang dapat menerima
keputusan-keputusan yang dibuat itu dengan rela dan lapang dada.
4. Wewenang
: Pengambilan keputusan berdasarkan wewenang biasanya dilakukan oleh pimpinan
terhadap bawahannya atau orang yang lebih tinggi kedudukannya kepada orang yang
lebih rendah kedudukannya. Pengambilan keputusan berdasarkan wewenang ini juga
memiliki kelebihan dan kekurangan.
5. Logika/Rasional
: Pengambilan keputusan yang berdasarkan logika ialah suatu studi yang rasional
terhadap semuan unsur pada setiap sisi dalam proses pengambilan keputusan. Pada
pengambilan keputusan yang berdasarkan rasional, keputusan yang dihasilkan
bersifat objektif, logis, lebih transparan, konsisten untuk memaksimumkan hasil
atau nilai dalam batas kendala tertentu, sehingga dapat dikatakan mendekati
kebenaran atau sesuai dengan apa yang diinginkan. Pada pengambilan keputusan
secara logika terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu :
–
Kejelasan masalah.
–
Orientasi tujuan : kesatuan pengertian tujuan yang ingin dicapai.
–
Pengetahuan alternatif : seluruh alternatif diketahui jenisnya dan
konsekuensinya.
–
Preferensi yang jelas : alternatif bisa diurutkan sesuai criteria.
–
Hasil maksimal : pemilihan alternatif terbaik didasarkan atas hasil ekonomis
yang maksimal
C.
Jenis-Jenis Keputusan.
Jenis
keputusan dalam sebuah organisasi dapat digolongkan berdasarkan banyaknya waktu
yang diperlukan untuk mengambil keputusan tersebut, bagian mana organisasi
harus dapat melibatkan dalam mengambil keputusan dan pada bagian organisasi
mana keputusan tersebut difokuskan.
Secara
garis besar jenis keputusan terbagi menjadi dua bagian yaitu :
1. Keputusan
Rutin : Keputusan Rutin adalah Keputusan yang sifatnya rutin dan berulang-ulang
serta biasanya telah dikembangkan untuk mengendalikannya.
2. Keputusan
tidak Rutin : Keputusan tidak Rutin adalah Keputusan yang diambil pada
saat-saat khusus dan tidak bersifat rutin.
D. Faktor-Faktor
yang Mempengaruhi dalam Pengambilan Keputusan.
Ada 6 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi
dalam Pengambilan Keputusan :
1. Fisik
: Didasarkan pada rasa yang dialami pada tubuh, seperti rasa tidak nyaman, atau
kenikmatan. Ada kecenderungan menghindari tingkah laku yang menimbulkan rasa
tidak senang, sebaliknya memilih tingkah laku yang memberikan kesenangan.
2. Emosional
: Didasarkan pada perasaan atau sikap. Orang akan bereaksi pada suatu situasi
secara subjective.
3. Rasional:
Didasarkan pada pengetahuan orang-orang mendapatkan informasi, memahami situasi
dan berbagai konsekuensinya.
4. Praktikal
: Didasarkan pada keterampilan individual dan kemampuan melaksanakan. Seseorang
akan menilai potensi diri dan kepercayaan dirinya melalui kemampuanya dalam
bertindak.
5. Interpersonal
: Didasarkan pada pengaruh jaringan sosial yang ada. Hubungan antar satu orang
keorang lainnya dapat mempengaruhi tindakan individual.
6. Struktural
: Didasarkan pada lingkup sosial, ekonomi dan politik. Lingkungan mungkin
memberikan hasil yang mendukung atau mengkritik suatu tingkah laku tertentu.
Selanjutnya,
John D.Miller dalam Imam Murtono (2009) menjelaskan faktor-faktor yang
berpengaruh dalam pengambilan keputusan adalah: jenis kelamin pria atau wanita,
peranan pengambilan keputusan, dan keterbatasan kemampuan.
DAFTAR
PUSTAKA
A
Dale Timpe. 2000. Memimpin Manusia, Seri
Ilmu dan Seni Manajemen Bisnis. PT Gramedia Asri Media
C.
Turney. 1992. Conseptualising The
Management Process. New Jersey : Prentice Hall Inc
Sudarman
Danim. 2004. Motivasi Kepemimpinan dan
Efektivitas Kelompok. Rineka Cipta
Thoha,
Miftah. 2010. Kepemimpinan dalam
Manajemen. Jakarta : Rajawali Pers
Wahjosumidjo.
1984. Kepemimpinan dan Motivasi. Jakarta
: Ghalia Indonesia

Tidak ada komentar:
Posting Komentar